Wednesday, December 19, 2007

Mikro..oh..mikrolet

Guah seringkali naek mikrolet.. Dan mohon kita samakan persepsi di sini, mikrolet di sini adalah kendaraan umu, bukan lawan dari kata makrolet.. Move on then..

Guah selalu mengira dunia permikroletan itu keras.. Sekeras kalo kita udah ga eek selama sebulan.. Dan ternyata dugaan guah itu benar.. Terbukti dari seberapa ngototnya supir-supir mendapatkan penumpang.. Untuk mempermudah, guah akan mensegregasikan menjadi tiga bagian..

Pertama, saking kerasnya dunia permikroletan, sang supir dituntut untuk sabar.. Guah adalah langganan mikrolet Senen - Kota.. Dan seringkali, sepanjang jalan, sang supir tenang menunggu calon penumpang.. Padahal calon penumpang masih ada di sebrang jalan beli es goyang.. Saking sabarnya, sang supir mematikan mesin..

“Irit bensin, Mas.” Gitu katanya.. Yang mereka ga tau, guah udah kebelet boker di mikrolet..

Kedua, sang supir seringkali berbohong..

“Ayo, Neng. Naik yang ini aja. Langsung jalan. Langsung jalan!” Dengan mempertimbangkan bahwa mikrolet di belakang tidak langsung jalan, si Eneng pun memilih mikrolet yang di depan, hanya untuk menemukan bahwa mikrolet yang ia naiki kemudian mematikan mesin dan menunggu penumpang lain.

“Irit bensin, Neng.”

Ketiga, sang supir kadang memaksa.. Kejadian ini paling sering ketika mikrolet sedang dalam keadaan cepat tiba-tiba saja berhenti mendadak karena ada orang yang berdiri di pinggir jalan..

“Mau kemana, Neng?”

“Ga, Bang. Saya cuma iseng aja berdiri di sini.”

“Mau kemana, Neng? Kota-Kota? Ini ke Kota kok.”

“Ga, Bang. Saya cuman iseng.”

“Neng mau kemana? Cerita aja.” Sang supir tiba-tiba menjelma menjadi teman curhat si Eneng.

“Ke Kota kan? Kan? Kan?”

Si Eneng yang tadinya hanya iseng berdiri pun jadi ragu,

“Duh, ke Kota ga ya?”

“Kota aja, Neng. Rame.” Dan guah pun dalam hati berteriak,

“INI APA SIH? MAKSA BANGET DEH.”

Posted by Roy at 05:47:41
Comments

Leave a Reply